kereknews.com Sederhana dalam bertutur kata dan berpenampilan, sorotan mata tajam, itulah yang tercermin di wajah mbah Sarmani, kakek 65 tahun Warga Desa Pongpongan Merakurak Tuban. Pertanian adalah keseharian mbah Sarmani dalam menjalani kehidupan bersama keluarganya.
Ia juga mudah dan terbuka dalam berkomunikasi, terkait kegiatan sehari harinya. Di ladang bekas tambang PT Semen Indonesia, beliau habiskan waktu menyibukkan diri dari pada nganggur di rumah. bercocok tanam merupakan pekerjaan yang beliau bisa jalani. hanya di lahan bekas tambang ini, kakek 65 cuman bisa bercocok tanam di karenakan sudah tidak punya lahan lagi.
" Bade di keruk nggeh Pak, menawi bade di keruk nggeh mboten nopo nopo, pancen mboten nderek gadah" ( akan di tambang ya pak, kalau mau ditambang ya sudahlah, memang bukan milik saya). itulah pembicaraan awal yang kereknews tangkap dari sosok kakek sepuh ini. "Bukan mbah?, kami hanya lewat saja ke jalan ini", terang Astro Kijan yang berjabat tangan dan langsung duduk bersama kakek 65tahun ini.
Dengan rokok kretek khas orang jawa tulen, kakek ini menerawang dengan sorotan tajam mencoba memulai pembicaraannya, "Dulu ladang saya di sana pak, tapi dengan adanya pabrik ini, semua berubah, tapi sudahlah memang semua memang sudah ada nasnya(takdir), sehingga akhirnya saya menggarap lahan bekas tambang ini, karena supaya ada kegiatan dari pada nganggur di rumah", Pungkasnya .
Inilah sekelumit potret buram kisah kakek Sarmani. Dengan keberadaan BUMN yang lama berdiri berada di wilayah sekitar Desa terdampak. tapi begitu kontras dengan kesejahteraan dan kelangsungan hidup para petani di desa sekitar. Reklamasi yang selalu di gaungkan tapi miris seakan cuman menjadi slogan kampanye belaka. Walaupun pemberitaan begitu masif tentang bagaimana industri bisa hidup berdampingan dengan pertanian. tapi faktanya. Begitu paradok dengan fakta di lapangan. (ns/ask)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar